Sabtu, 21 April 2012

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN ACARA IV PENAKSIRAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA Disusun oleh: Nama : 1. Aprian Heriyawan (11606) 2. Suseno Ari Wibowo (11690 3. Ratna Whayuningtyas (11799) 4. Gigin Anisolikhah (11721) 5. Nur Chasanah (11875) Gol/Kel : A3/5 Asisten : Ayuta Ratu Balqis Siska Permata Dedek Kurniawan Sary Prihatini LABORATORIUM MANAJEMEN DAN PRODUKSI TANAMAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012 ACARA IV PENAKSIRAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting bagi Indonesia disamping kakao, kopi, lada, dan vanili. Komoditi ini telah lama dikenal dan sangat berperan bagi kehidupan bangsa Indonesia baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial budaya. Bagi masyarakat pedesaan, tanaman kelapa merupakan komoditi yang sangat bermanfaat untuk membantu menopang pemenuhan kebutuhan masyarakatnya melalui pemanfaatan bagian-bagiannya. Dapat dikatakan bahwa semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebuttuhan, mulai dari akar sampai daunnya. Salah satu bagian kelapa yang mempunyai banyak manfaat adalah daging buah Di Indonesia, kelapa banyak diusahakan sebagai perkebunan rakyat dengan produktivitas yang masih relatif rendah, 0,5 – 1 ton kopra per hektar per tahun, bila dibandingkan dengan kemampuannya untuk berproduksi sampai 2,0 ton kopra. Rendahnya produksi ini, disamping belum menggunakan bibit unggul dan kurangnya pemeliharaan juga disebabkan oleh umur tanaman yang telah tua dan lingkungan tumbuh yang tidak sesuai. Kondisi yang demikian mengakibatkan pendapatan petani kelapa sangat rendah. Dewasa ini terdapat kecenderungan melambatnya pertumbuhan luas areal pertanaman dan produksi kelapa yang menunjukkan bahwa bisa jadi pada tahun-tahun mendatang akan terjadi kekurangan pasokan kelapa, karena jumlah tanaman yang menghasilkan akan berkurang disebabkan sudah tua atau rusak akibat hama dan penyakit dan bencana alam. Kurang menariknya harga kelapa sejauh ini menyebabkan perawatan dan pemeliharaan tanaman kelapa oleh petani tidak memadai. Agar produksi kelapa tidak menurun, maka pelaksanaan peremajaan dan rehabilitasi harus dilakukan secara terus menerus pada sekitar 20-30% pertanaman kelapa. Terkait dengan pemanfaatannya yang sangat beragam dan sangat melekat dalam kehidupan masyarakat, produktivitas tanaman kelapa diharapkan dapat tetap berkelanjutan baik secara kuanititas maupun kualitas. Penaksiran produktivitas dalam skala mikro merupakan upaya yang dapat digunakan untuk memprediksi distribusi pendapatan petani secara mikro. Penaksiran produktivitas juga mempermudah perencanaan pemungutan panen yang akan dilakukan. B. Tujuan 1. Mengetahui susunan dan sifat karakteristik buah kelapa. 2. Memilih buah kelapa yang baik untuk bahan tanam. II. TINJAUAN PUSTAKA Kelapa merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Kelapa banyak terdapat di negara-negara Asia dan Pasifik yang menghasilkan 5.276.000 ton (82%) produksi dunia dengan luas ± 8.875.000 ha (1984) yang meliputi 12 negara, sedangkan sisanya oleh negara di Afrika dan Amerika Selatan. Indonesia merupakan negara perkelapaan terluas (3.334.000 ha tahun 1990) yang tersebar di Riau, Jateng, Jabar, Jatim, Jambi, Aceh, Sumut, Sulut, NTT, Sulteng, Sulsel dan Maluku, tapi produksi dibawah Philipina (2.472.000 ton dengan areal 3.112.000 ha), yaitu sebesar 2.346.000 ton (Anonim, 2009). Kelapa merupakan komoditas perkebunan yang terluas diusahakan, dan berpengaruh besar dalam perekonomian nasional. Sebagai sumber pendapatan bagi petani, bahan baku industri dalam negri, sumber minyak nabati dan sumber devisa. Bagian yang dianggap penting dari kelapa adalah daging buahnya, yang hanya digunakan sebagai sumber buah nabati dalam bentuk minyak goreng maupun hasil olahannya. Kandungan 100 gr daging buah kelapa umur 11-12 bulan ternyata terdapat 359 gram kalori, 13,4 gram protein, 347 gram lemak dan 14,9 gram karbohidrat (Juniaty et al., 2000). Pada perkebunan rakyat, kelapa umumnya ditanam secara monokultur sehingga tidak efisien dalam pemanfaatan lahan. Perakaran efektif rata-rata tanaman kelapa berada pada radius 2 m dari batang, sehingga 1 pohon kelapa hanya memerlukan 12,50 m2. Berdasarkan populasi tanaman dalam I hektar dapat dihitung lahan yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan lahan secara monokultur kurang dianjurkan dari segi pemanfaatan lahan. Dari segi ekonomis cukup kuat alasan untuk untuk menanam tanaman sela di antara tanaman kelapa karena dapat meningkatkan pendapatan, lapangan kerja, dan penanggulangan hama. Dengan adanya tanaman sela, pemupukan yang diberikan pada tanaman sela sebagian akan mengalir ke kelapa. Demikian juga dengan pengolahan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah dan mengurangi gulma dan hama/ penyakit, sehingga produksi kelapa dapat meningkat (Abdurachman dan Mulyani, 2003). Kelapa memiliki variasi genetis yang besar dan hanya dapat dibiakkan secara generatif. Penyediaan bahan tanaman yang terpilih dan berkualitas baik akan lebih menjamin berhasilnya pertanaman. Kualitas bibit tergantung pada kualitas pohon induk darimana buah diambil. Dari pengamatan dilapangan terbukti bahwa pada tempat dan keadaan yang sama, banyaknya buah yang dihasilkan oleh pohon-pohon kelapa sangat bervariasi. Perbedaan kapasitas menghasilkan ini disebabkan oleh sifat genotipisnya.. Maka, memilih pohon induk yang baik merupakan suatu keharusan agar diperoleh tanaman yang baik kelak (Setyamidjaja, 1982). Tanaman kelapa tumbuh di daerah tropis, dapat dijumpai baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Pohon ini dapat tumbuh dan berbuah dengan baik di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-450 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 450-1000 m dari permukaan laut, walaupun pohon ini dapat tumbuh, waktu berbuahnya lebih lambat, produksinya lebih sedikit dan kadar minyaknya rendah (Sarmidi, 2009). Terdapat dua jenis varietas kelapa, yaitu kelapa genjah (dwarft coconut) dan kelapa dalam (tall coconut). Hasil persilangan kedua varietas tersebut dihasilkan kelapa hibrida yang diharapkan memiliki sifat-sifat baik dari kedua induknya. Di Indonesia, terdapat beberapa varietas kelapa dalam di antaranya adalah Mapanget, Tenga, Bali, Palu, Sawarna dan Takome. Varietas kelapa genjah yang dikenal di Indonesia adalah kelapa genjah kuning Nias, Bali, Raja dan Salak. Kelapa hibrida yang dikenal di Indonesia adalah kelapa hibrida Indonesia KHINA-1 (Dalam Tengah X Genjah Kuning Nias), KHINA-2 ( Dalam Bali X Genjah Juning Nias), KHINA-3 (Dalam Palu X Genjah Kuning Nias), KHINA-4 (Dalam Mapanget X Genjah Raja) dan KHINA-5 (Dalam Mapanget X Genjah Bali) (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2007). Buah kelapa berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih sebesar kepala manusia, terdiri dari lima bagian, yaitu esokarp (kulit luar), mesokarp (sabut), endokarp (tempurung), daging buah dan air kelapa. Buah kelapa disusun oleh 25% esokarp dan mesokarp, 12% endokarp, 28% daging buah dan 25% air kelapa (Woodroof, 1979). Daging buah kelapa sendiri mengandung 52% air, 34% minyak, 3% protein, 1,5% karbohidrat dan 1% abu (Setyamidjaja, 1982). Menurut Bahusin (1981), syarat-syarat buah yang baik adalah benih harus berasal dari pohon induk yang baik, bentuk benih bulat atau agak lonjong, ukuran buah sedang memiliki panjang kira-kira 22-25 cm dan lebar 17-22 cm serta berbobot berat, airnya cukup banyak, buah cukup matang (tua), serta kulit buah licin dan mulus. Buah kelapa dapat dipetik pada umur 14 bulan, pada saat pemetikan sebaiknya buah tidak dijatuhkan. Menurut Child (1974), pada umur 9 bulan buah mencapai ukuran maksimal dengan berat 3-4 kg, berisi cairan 0.3-0.4 liter. Buah mencapai masak benar pada umur 12-13 bulan, tetapi beratnya turun menjadi 1.5-2.5 kg. Ruang bagian dalam endosperm tidak lagi berisi penuh air buah. Kandungan zat-zat berbeda-beda pada macam-macam bagian dari putih lembaga. Di sebelah pangkal tempurung terdapat tiga buah lubang tumbuh yang disebut “mata”. Salah satu “mata” berukuran paling besar tetapi tutup lubangnya paling lunak adalah tempat keluarnya lembaga pada saat biji/buah berkecambah. Daging buah terdiri atas 3 bagian, yaitu (1) Epicarp, yaitu kulit bagian luar yang permukaannyan licin, agak keras dan tebalnya ±1/7 mm; (2) Mesocarp, yaitu kulit bagian tengah yang disebut sabut. Bagian ini terdiri dari serat-serat yang keras tebalnya 3-5 cm; (3) Endocarp, yaitu bagian tempurung yang keras sekali. Tebalnya 3-6 mm. Bagian dalam melekat pada kulit luar dari biji/endosperm, dan (4) Putih lembaga atau endosperm yang tebalnya 8-10 mm. III. METODOLOGI Praktikum Budidaya Tanaman Tahunan acara IV dengan judul Penaksiran Produktivitas Tanaman Kelapa ini dilaksanakan di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tanggal 21 Maret 2012 dan di kebun kelapa milik Bapak Sugiyanto di Dusun Sendang Lor, Brebah, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 25 Maret 2012. Dalam pelaksanaan praktikum, alat-alat yang digunakan adalah roll meter, busur derajat, alat tulis, kamera, hand counter, dan kendaraan. Adapun bahan yang diperlukan adalah kebun kelapa milik petani. Praktikum ini dilaksanakan secara teori di laboratorium pada hari praktikum sesuai jadwal kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung di kebun milik petani sesuai dengan hasil pembagian daerah berdasarkan undian. Syarat pemilihan lokasi yang dapat digunakan untuk pengamatan adalah kebun dengan minimal 10 tanaman kelapa di dalamnya. Pada hari yang telah disepakati, pengamatan dilakukan dengan datang ke kebun petani dan dimulai dengan wawancara dengan poin-poin pertanyaan yang telah disiapkan. Informasi yang ditanyakan adalah identitas petani (nama, umur, alamat, pekerjaan), luas halaman (lahan yang ditanami kelapa), jumlah pohon kelapa yang dimiliki, serta teknis budidayanya (asal bibit, penanaman, jarak tanam, pemeliharaan, pemanenan, dan pasca panen). Selanjutnya, diambil 3 sampel tanaman yang ada di kebun milik petani secara acak. Diamati beberapa parameternya, yaitu jenis tanaman kelapa (dalam, genjah, hibrida, gading, dll), tinggi tanaman, jumlah janjang per pohon, jumlah buah per janjang, dan perkiraan waktu panen yang akan datang. Selanjutnya, berdasarkan data hasil pengamatan diperkirakan beberapa produktivitas tanaman kelapa milik petani (Bapak Sugiyanto) dalam satuan butir kalapa per pohon per tahun. Hasil pengamatan dan wawancara dilaporkan secara kelompok. Rumus Metode Pengukuran Tinggi Tanaman Pohon Kelapa : tl : tinggi tanaman yang diamati  l t0 : tinggi pengamat l = jarak pengamat ke pohon t1= l tg  Tinggi pohon kelapa (Tp) = t0 + t1 Produktivitas Tanaman Kelapa (PTK) = jumlah butir per janjang x jumlah janjang per pohon x jumlah panen per tahun IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan Tabel 4.1 Hasil pengamatan tanaman kelapa Parameter yang diamati Tanaman 1 Tanaman 2 Tanaman 3 Jenis tanaman kelapa Dalam Dalam Genjah Tinggi tanaman 25,71 m 18,09 m 8,11 m Jumlah jenjang per pohon 5 5 5 Jumlah buah per jenjang 6 5 7 Perkiraan waktu panen 30-35 hari 30-35 hari 30-35 hari Produktivitas Butir kelapa per pohon per tahun 300 butir 250 butir 350 butir B. Perhitungan a. Tinggi tanaman kelapa 1 t0 = 157cm l = 1000 cm  = 750 t1 = 1000 tg 75o = 2414,21 cm Tp = 157 +2414,21 = 2571,21 cm = 25,71 m Tinggi tanaman kelapa 2 t0 = 157cm l = 1200 cm  = 600 t1 = 1200 tg 60o = 1651,66 cm Tp = 157 + 1651,66 = 1808,66 cm = 18,09 m Tinggi tanaman kelapa 3 t0 = 157cm l = 900 cm  = 400 t1 = 900 tg 40o = 653,89 cm Tp = 157 + 653,89 = 810,89 cm = 8,11 m b. Produktivitas Tanaman - Tanaman Kelapa 1 (Dalam) Buah kelapa dapat dipanen setelah berumur 35 hari, berarti dalam 1 tahun dapat dipetik ± 10 kali. Produktivitas tanaman kelapa per pohon = 6 butir X 5 jenjang X 10/tahun = 300 butir/tahun/pohon. - Tanaman Kelapa 2 (Dalam) Buah kelapa dapat dipanen setelah berumur 35 hari, berarti dalam 1 tahun dapat dipetik ± 10 kali. Produktivitas tanaman kelapa perpohon = 5 butir X 5jenjang X 10/tahun = 250 butir/tahun/pohon. Jadi, produktivitas rata-rata untuk tanaman kelapa dalam = 1/2 (300 + 250), = 275 butir/tahun/pohon Produktivitas per hektar per tahun = (10.000 m2 / (7 pohon x 8 m x 9 m)) x 275 butir/pohon/tahun = 5.456 butir per kehtar per tahun Produktivitas per hektar dalam kopra = (5.456/5.000) x 1,25 ton kopra = 1,36 ton kopra - Tanaman Kelapa 3 (Genjah) Buah kelapa dapat dipanen setelah berumur 35 hari, berarti dalam 1 tahun dapat dipetik ± 10 kali. Produktivitas tanaman kelapa perpohon = 7 butir X 5 jenjang X 10/tahun = 350 butir/tahun/pohon Produktivitas per hektar per tahun = (10.000 m2 / (5 pohon x 8 m x 9 m)) x 350 butir/pohon/tahun = 9.722 butir per kehtar per tahun Produktivitas per hektar dalam kopra = (9.722/9.000) x 1,5 ton kopra = 1,62 ton kopra Data yang diperoleh dari wawancara dengan petani. 1) Identitas Petani o Nama : Sugiyanto o Umur : 56 tahun o Alamat : Sumber Lor, Kalitirto, Berbah, Sleman o Pekerjaan : Buruh Tani 2) Luas lahan (yang ditanam kelapa) : ± 864 m2 Jumlah pohon kelapa : 12 Pohon (7 kelapa dalam, 5 kelapa genjah) 3) Teknis budidaya: o Asal bibit : Dari buah yang dibiarkan bertunas o Jarak tanam : 8 m x 9 m o Pemeliharaan : awal pertumbuhan disiram, dipupuk NPK 2 kali setahun, penanganan hama wawung dengan penggaraman o Pemanenan : dipetik manual dengan cara dipanjat o Pasca panen : dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri, selebihnya dijual ke tengkulak C. Pembahasan Produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktifitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output. Efisiensi produksi dapat dinyatakan dalam parameter produktivitas, yaitu produksi per satu satuan unit faktor produksi tertentu dalam periode waktu tertentu. Produktivitas merupakan fungsi dari faktor-faktor produksi, baik dari dalam sifat tanaman itu sendiri, lingkungan, maupun manajemen budidayanya. Masing-masing faktor saling berkaitan dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman sampai pada akhirnya tampak pada produktivitasnya. Tingkat produksi kelapa, di Indonesia pada khususnya dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: 1. Umur tanaman Tanaman kelapa memiliki usia tertentu untuk mulai dapat menghasilkan dengan usia tertentu di mana produksi mencapai jumlah tertinggi. Namun demikian, antiklimaks dari posisi tersebut pada umumnya tanaman kelapa akan mulai mengalami penurunan marjin produksi seiring dengan semakin bertambah tua usianya. 2. Varietas / jenis kelapa yang ditanam Varietas yang digunakan menentukan sifat dasar tanaman terkait dengan potensinya untuk mampu tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan baik. Varietas unggul merupakan investasi awal yang sangat menentukan keberhasilan budidaya kelapa. Penggunaan varietas unggul akan dapat menekan risiko kegagalan melalui rekayasa input produksi yang lain yang dapat mendukung sifat baik yang ada pada varietas yang digunakan. Penggunaan input produksi menjadi lebih efektif dan efisien serta mampu merespon faktor lingkungan seperti hama dan penyakit secara lebih terkendali. 3. Perlakuan budidaya Perlakuan budidaya merupakan upaya mengkoordinasikan potensi faktor produksi yang ada untuk sedemikian rupa berada pada kondisi saling mendukung. Dalam hal ini, risiko sekecil-kecilnya merupakan output yang diharapkan dari perlakuan budidaya. Perlakuan budidaya dimaksudkan untuk mempertahankan potensi aktual, baik dari faktor internal tanaman maupun kesesuaian lingkungan untuk produktivitas tanaman yang diharapkan lebih dari potensi aktualnya melalui rekayasa faktor lain yang masih dapat diupayakan. 4. Adanya serangan hama dan penyakit Hal penting yanga harus diperhatikan dalam hal ini adalah pengendalian serangan hama dan penyakit agar tidak mencapai aras ekonomi yang dapat secara signifikan mempengaruhi produktivitas tanaman. Dalam kaitannya dengan penggunaan bibit unggul pada poin 1, seringkali terdapat beberapa hal yang bertentangan. Pada umumnya produktivitas dan kualitas buah yang baik seringkali diiringi dengan sifat tanaman yang relatif lebih rentan terhadap gangguan OPT. Sebaliknya, sifat tanaman dengan ketahanan yang lebih baik terhadap OPT umumnya memiliki kemampuan berproduksi dan kualitas buah yang relatif lebih redah. Adanya perkembangan teknologi yang telah berhasil memadukan sifat tanaman menghasilkan tanaman dengan produktivitas tinggi dan tahan terhadap OPT merupakan inovasi yang cukup dapat menjadi solusi dalam budidaya tanaman kelapa. 5. Sistem pengolahan dan tata niaga hasil Perkembangan teknologi pengolahan (industri hilir) yang memanfaatkan kelapa sebagai bahan baku merupakan faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap produksi kelapa secara tidak langsung. Semakin banyaknya konsumsi masyarakat baik secara langsung maupun melalui pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan menjadi total peluang permintaan yang mampu mendorong meningkatkan produksi kelapa secara tidak langsung. Permintaan yang tinggi dan nilai tambah pada industri hilir akan dapat mendorong peningkatan harga jual kelapa itu sendiri sehingga menjadi motivasi bagi petani untuk meningkatkan produksi seiring semakin berkembangnya teknologi budidayanya. 6. Tujuan penggunaan Adanya keragaman tujuan penggunaanya menyebabkan seringkali buah kelapa telah dipanen sebelum cukup matang, misalnya pemanenan dalam bentuk kelapa muda. Hal ini meyebabkan siklus panen tidak lagi sesuai dengan teori yang seharusnya dan produktivitas total dalam bentuk standar (buah matang atau kopra) menjadi berubah. Pemanenan dalam bentuk yang belum cukup waktu untuk dipanen secara terus-menerus akan menyebabkan tanaman mengalami stress sehingga berpengaruh terhadap produktivitasnya. Pada praktikum ini, pengamatan dilakukan di kebun milik Bapak Sugiyanto di Sumber Lor, Kalitirto, Berbah, Sleman. Terdapat 12 tanaman kelapa pada luas lahan sekitar 864 m2 yang terdiri dari 7 jenis kelapa dalam dan 5 lagi dari jenis genjah. Hasil pengambilan sampel secara acak didapatkan 2 tanaman dari jenis kelapa dalam dan 1 tanaman kelapa genjah. Teknik budidaya yang dilakukan oleh petani masih dapat dikatakan sangat sederhana. Kelapa tidak menjadi tanaman utama yang secara komersil dibudidayakan intensif. Tanaman kelapa pada pengamatan kami lebih difungsikan sebagai bentuk optimalisasi lahan pekarangan yang dikombinasikan dengan tanaman tahunan lain seperti mangga, kayu jati, dan beberapa tanaman lain sekaligus tanaman penyejuk, penaung dan penangkal sinar matahari dikala terik matahari sedang tinggi-tingginya.Pola penanaman yang digunakan aadalah pola pinggiran (border). Dari 12 tanaman yang ada, hanya sekitar 8 tanaman yang masih produktif, selebihnya berada dalam kondisi yang sudah cukup tua untuk dapat diharapkan produktivitasnya. Tanaman kelapa bukan difungsikan sebagai tanaman utama (core) yang secara intensif dibudidayakan untuk kepentingan komersil, melankan hanya bersifat subsisten. Produksi hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga petani dan baru dijual kepada pedagang ketika terdapat kelebihan hasil. Pada awal penanamannya, petani menanam tanaman kelapa dengan memanfaatkan bibit dari tanaman sebelumnya yang sengaja ditunaskan untuk penanaman yang telah direncanakan atau hanya secara kebetulan menanam dari buah yang terlanjur bertunas sebelum dimanfaatkan. Tidak ada metode penanaman yang secara khusus diterapkan petani, seperti pada anjuran budidaya kelapa yang ada. Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan untuk menghindari kekeringan tanaman pada awal pertumbuhannya. Jarak tanam yang digunakan adalah 8 x 9 m. Penanaman pada waktu tersebut juga membantu petani agar tidak perlu melakukan penyiraman secara intensif selama awal pertumbuhan tanaman. Pemeliharaan tanaman kelapa pun hanya dilakukan secara sederhana. Pada awal penanaman dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang diaplikasikan dengan secara langsung ikut dimasukkan ke dalam lubang tanam. Pupuk ditanam dengan metode spot placement , yaitu membuat rorak (lubang) di samping tanaman sedalam 30 cm dengan jarak 100-150 cm (tajuk terluar). Selain berfungsi untuk lubang pemupukan, rorak juga berfungsi untuk lubang drainase terutama pada musim penghujan serta lubang penimbun seresah di sekitar tanaman yang dapat menjadi sumber bahan organik bagi tanaman. Selama masa produksinya, tanaman mendapatkan pemupukan dua dua kali dalam setahun. Pemupukan dilakukan pada awal musim penghujan dan awal akhir musim penghujan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea dengan dosis 1 kg per tanaman yang diaplikasikan sama seperti awal penanaman. Terkait dengan perlakuan pengendalian hama wangwung (Oryctes rhinoceros) yang sering menyerang, bila dirasa hama ini telah mencapai ambang batas ekonomi. Pengendalian wawung dilakukan dengan memberikan garam pada ujung pupus. Pada saat garam tersebut larut terbawa air karena hujan, telur wawung dapat ikut larut dan populasi hama dapat dikendalikan. Cara ini dilakukan jika hanya beberapa saja tanaman yang terserang hama, namun untuk intensitas serangan yang lebih tinggi maka pengendalian hanya dilakukan dengan penyiraman air garam pada pangkal batang saja. Tidak ada perlakuan khusus untuk menanggulangi gulma. Untuk tanaman kelapa dalam, pemanenan kelapa biasanya dilakukan setelah kelapa berumur ± 5 tahun untuk kelapa dalam, dan ± 4 tahun untuk kelapa genjah. Kondisi tanaman yang cukup tinggi menyebabkan pemanenan harus dilakukan dengan cara diapnjat dan dipetik langsung. Namun, untuk tanaman kelapa genjah pemanenan dapat dilakukan dengan memanjat langsung atau menggunakan galah yang memiliki panjang sama dengan tinggi batang kelapa jika dirasa perlu. Dari data hasil pengamatan dapat dipekirakan produksi satu pohon kelapa rata-rata adalah 275 butir per tahun untuk kelapa dalam dan sekitar 350 butir per tahun per pohon untuk kelapa genjah. Kelapa muda biasanya dipanen dalam waktu 20-25 hari sedangkan kelapa tua dipanen 30-35 hari. Hasil panen biasanya dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga petani dan baru dijual ketika terdapat kelebihan hasil. Pemasaran dilakukan terhadap temgkulak yang langsung datang ke kebun petani tiap periode waktu tertentu. Kelapa jenis genjah dapat menghasilkan 9.000-11.000 butir per hektar per tahun atau setara dengan 1,5 – 2 ton kopra. Kelapa jenis dalam dapat menghasilkan buah 4.000-5.000 butir per hektar per tahun atau setara dengan 1- 1,25 ton kopra (Warisno, 2003). Produktivitas kelapa aktual untuk kelapa genjah pada pengamatan ini setara dengan 9.722 butir per hektar per pohon atau sekitar 1,62 ton kopra jika menggunakan batas minimal produktivitas kelapa dalam menurut teori (9.000 butir per ha per pohon). Adapun untuk kelapa dalam, dengan metode konversi yang sama didapatkan bahwa produktivitas aktualnya setara dengan 5.456 butir per hektar per pohon atau sekitar 1,36 ton kopra jika menggunakan batas maksimal produktivitas kelapa dalam menurut teori di atas. Berdasarkan pengamatan ini, didapatkan bahwa produktivitas tanaman kelapa dalam sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan teori, sementara produktivitas kelapa genjah berada dalam rentang yang masih sesuai dengan teori. Perbedaan produktivitas keduanya disebabkan oleh beberapa faktor, terutama oleh perbedaan sifat kedua varietas tersebut yang secara teori berbeda dalam hal produktivitasnya. Dilihat dari hasil pengamatan ini maka kelapa dalam memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan kelapa genjah pada kondisi lingkungan dan perlakuan yang relatif sama saat dikonversikan dengan masing-masing standar produktivitas masing-masing varietas. Salah satu faktor yang mungkin menjadi penyebabnya adalah perlakuan budidaya yang sama (kurang intensif) masih secara lebih baik direspon oleh kelapa varietas dalam dibandingkan dengan kelapa varietas genjah. Di samping itu, banyaknya tanaman lain di sekitarnya menyebabkan kelembaban lingkunagn mikro yang lebih banyak berpengaruh terhadap tanaman kelapa varietas genjah karena morfologinya yang lebih pendek dibandingkan kelapa varietas dalam. Kelembaban ini menimbukan risiko serangan hama wangwung yang lebih tinggi, di samping karena sifat dasarnya yang relatif tidak tahan terhadap OPT. Dalam Suhardiman (1994), disebutkan bahwa pada umumnya tanaman kelapa varietas genjah mulai menghasilkan buah pada umur 3-4 tahun. Untuk varietas dalam, kelapa mulai menghasilkan buah pada umur 6-8 tahun. Masa puncak produksi kelapa juga berbeda-beda. Untuk kelapa dalam masa puncak produksinya pada umur antara 15-20 tahun. Setelah berumur 20 tahun produksinya berangsur turun dan setelah berumur 40 tahun produksinya merosot. Sedang kelapa genjah/hibrida, masa produksi puncak antara umur 10-18 tahun. Setelah berumur 18 tahun produksi mulai berangsur turun dan merosot setalah umur 30 tahun. Secara umum, produktivitas kelapa baik dalam maupun genjah pada pengamatan ini dapat dikatakan baik, meskipun masih dilakukan secara sederhana dan tidak ada pemeliharaan yang intensif. Produktivitas kelapa dapat ditingkatkan dengan pemeliharaan yang intensif dengan mengikuti standar budidaya tanaman kelapa seperti yang telah dianjurkan oleh instansi-intansi terkait. Potensi lingkungan yang telah ada diharapkan mampu menjadi modal awal untuk pengembangan budidaya tanaman kelapa meskipun dalam skala kecil di tingkat petani untuk optimalisasi lahan pekarangan saja. Hal tersebut dapat lebih optimal dengan penggunaan bibit unggul untuk meremajakan tanaman tua yang telah berkurang masa produktifnya. Penanaman baru atau perluasan harus mempertimbangkan kesesuaian lingkungan, dan meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan tidak hanya kelapa butiran, kopra atau minyak akan tetapi aneka ragam produk yang berasal dari tanaman kelapa maupun dari tanaman sela yang ditanam diantara pohon kelapa. V. KESIMPULAN 1. Kelapa (Cocos nucifera) terdiri dari lima bagian, yaitu esokarp (kulit luar), mesokarp (sabut), endokarp (tempurung), daging buah dan air kelapa. 2. Buah yang baik untuk benih harus berasal dari pohon induk yang baik, bentuk benih bulat atau agak lonjong, ukuran buah sedang memiliki panjang kira-kira 22-25 cm dan lebar 17-22 cm serta berbobot berat, airnya cukup banyak, buah cukup matang (tua), serta kulit buah licin dan mulus. 3. Teknik budidaya tanaman kelapa meliputi: pembibitan, pengolahan media tanam, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan. 4. Perlakuan budidaya tanaman kelapa di kebun milik petani di Sumber Lor, Kalitirto, Berbah, Sleman masih sederhana dan tidak memerlukan teknis yang khusus. 5. Produktivitas tanaman kelapa dalam di daerah Sumber Lor, Kalitirto, Berbah, Sleman sekitar 275 butir per pohon/tahun, setara dengan 5.456 butir per hektar per tahun atau 1,36 ton kopra, lebih tinggi daripada teori produktivitasnya. 6. Produktivitas tanaman kelapa dalam di daerah Sumber Lor, Kalitirto, Berbah, Sleman sekitar 350 butir per pohon/tahun, setara dengan 9.772 butir per hektar per tahun atau 1,62 ton kopra, sesuai dengan rentang teori produktivitasnya. DAFTAR PUSTAKA Abdurachma, A., dan Mulyani, Anny. 2003. Pemanfaatan lahan berpotensi untuk pengembangan produksi kelapa. Jurnal Litbang Pertanian 1: 24-32. Anonim. 2009. Budidaya Kelapa. . Diakses pada tanggal 25 Maret 2012. Bahusin. 1981. Pertumbuhan Kelapa Hibrida di Perkebunan PT. Perkebunan X. Pusat Penelitian Getas. Salatiga. Child, R. 1974. Coconut 2nd edition. Longman Group ltd. London. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2007. Roadmap Komoditi Kelapa. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Jakarta. Juniaty, T., F. Mondi dan H. Tampake. 1999. Komposisi kimia daging buah kelapa genjah solok pada tiga lokasi tumbuh. Habitat. 10: 9-16. Setyamidjaja, Djoehana. 1982. Kelapa Hibrida, Budidaya dan Pengolahan.Yayasan Kanisius. Yogyakarta. Suhardiman, P.1994.Bertanam Kelapa Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta. Warsino. 2003. Budidaya Kelapa Genjah. Kanisius. Yogyakarta. Woodroof, J.G. 1979. Coconut Production Processing Product. AVI Publ. Company. INC., Westport, Connecticut. LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar